B.A.P · Fanfiction

Unwanted Marriage

tumblr_nb6iqgwucX1tq8pxqo1_500

Credits poster, story, and all content in this fanfiction are belong to BabyBAP4ever
You can read the original story here: Unwanted Marriage
Genre : Angst
Length : Oneshot
Indonesia translation by fantastic fangirl


THE UNWANTED MARRIAGE


DESKRIPSI

Aku tak menginginkan pernikahan ini.
Aku membencinya.
Dia namja yang telah merusak hidupku disaat aku masih memiliki orang lain yang kucintai.
Dia benar-benar sudah menghancurkan semuanya dengan pernikahan ini.

KARAKTER

Yongguk

64fbfce8b6ecea04dbc8b0c607adc699

Kamu

large


tumblr_mr8pljaIhm1seg9zro2_500

‘______’ <— isikan dengan nama kalian

Kudekatkan tanganku ke depan wajah untuk melihat lebih jelas lagi waktu yang ditunjukkan oleh jam tanganku. Aku tersenyum puas setelah mengetahui jam berapa sekarang. Aku tahu seseorang sedang menungguku di apartemen, ya.. apartemen tempat kami tinggal. Sudah hampir 1 tahun aku tinggal di dalamnya dengan orang yang tak begitu kuinginkan.

Suara pintu lift yang terbuka menyadarkanku dari pikiranku dan dengan langkah berat aku berjalan menuju apartemen kami. Tak ada seorang pun yang terlihat disana karena pada jam-jam seperti ini mereka pasti sudah berada di alam mimpi.

Tak perlu menekan bel ataupun mengetuk pintu, aku akan langsung masuk ke dalam seperti biasa. Kututup pintu apartemen kembali dan melepas high heels-ku sebelum masuk ke dalam. Ruang tamu tampak gelap saat aku berjalan menuju dapur untuk mengambil minum.

Aku berhenti sejenak saat kulihat dia sedang duduk di ruang makan menyelesaikan pekerjaannya. Di meja tampak berserakan kertas dan laptop ada di depannya. Kuperhatikan sekilas, saat ini dia memakai kemeja hitam dan celana pendek. Tampaknya ia belum menyadari keberadaanku dan terlihat serius sambil menggigit bibir bawahnya. Kupikir itu adalah kebiasaannya ketika sedang serius dan fokus pada sesuatu.

Mengabaikan apa yang sedang dilakukannya, kulangkahkan kaki menuju kulkas. Kubuka pintu kulkas sedikit kasar, mengambil botol jus jeruk kemudian kututup pintunya kembali. Kuambil gelas dan kutuangkan jus dengan tenang lalu kuminum. Tapi saat ujung gelas hampir menyentuh bibirku, kudengar sebuah suara berat memecah keheningan ruangan.

“Kau dari mana saja?”, dia menatapku dan menunggu jawabanku.

“Suatu tempat”, jawabku santai sambil meneguk jus jerukku.

“Dengan namja itu?”, matanya yang tampak lelah menatap mataku yang dingin. Kenapa dia harus bertanya seperti itu kalau dia sudah tahu jawabannya?

Faktanya, aku sudah memiliki kekasih sebelum dia datang ke dalam hidupku dan merusak segalanya. Harapanku untuk menikah dengan kekasihku, masa depan untuk hidup bahagia dengan kekasihku, dan segala sesuatu yang sudah direncanakan rusak sudah setelah dia datang.

Sejak awal aku tak pernah menginginkan pernikahan ini terjadi. Pertama kali aku bertemu dengannya adalah pada hari pernikahanku. Gila bukan? Saat itu aku tak tahu apapun tentangnya dan hanya tahu namanya lalu aku tahu kalau dia lah yang akan menjadi suamiku.

Yang kulakukan saat itu hanya terus menangis pada eomma, kukatakan kalau aku tak menginginkan pernikahan ini, tapi eomma hanya diam saja sambil menenangkanku dengan rasa simpati. Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran orang tuaku saat itu.

“Ya, dengannya. Kenapa? Ada masalah?”, jawabku dingin.

Tepat pada saat dia resmi menjadi suamiku, aku memutuskan untuk membencinya dan ‘menyiksanya’ dengan sikap dinginku. Aku ingin dia merasakan betapa sakitnya aku ketika dipaksa untuk menikah dengan orang yang tak kucintai bahkan sama sekali tak kukenal sebelumnya.

Dia hanya menggelengkan kepalanya sambil menunjukkan gummy smile-nya yang sejak awal kubenci.

“Aku tak pernah mempermasalahkan itu. Aku hanya ingin memastikan kalau kau baik-baik saja”.

“Jangan bersikap seolah-olah kau peduli padaku! Hiss!”, aku berbalik dan meletakkan gelasku ke dalam bak cuci. Aku tak ingin lama-lama di sini dengannya. Wajah tenangnya membuatku frustrasi. Aku tak suka semua yang ada padanya bahkan senyumnya.

Aku selalu berusaha membuatnya marah tapi dia tak pernah marah. Tidak pernah sekalipun dia marah bahkan sejak kami menikah. Aku benci sikapnya yang seperti ini karena hampir saja membuatku luluh.

“Selamat malam ‘______'”, katanya saat melihatku beranjak menuju kamarku. Aku tak menjawabnya dan hanya meliriknya sekilas. Kulihat dia berjalan menuju bak cuci dan membantu mencucikan gelasku tadi.

‘Aku benci padanya’, gumamku kesal. Kurebahkan tubuhku dengan kasar ke atas tempat tidur. Lelah sekali rasanya.

Perlu kalian tahu, kami tidak tidur dalam satu kamar. Dia punya kamar sendiri di samping kamarku. Kami tidur terpisah di kamar masing-masing walaupun status kami adalah suami istri. Aku tak pernah mau satu kamar dengannya. Aku belum siap, maksudku aku belum bisa menerima dia sepenuhnya untuk masuk ke dalam hidupku.

Kupejamkan mataku sejenak untuk menenangkan diri. Aku tak tahu kapan pernikahan ini akan berakhir. Aku harap segera dan secepatnya.

Kubuka mataku saat mendengar bel apartemen berbunyi. ‘Siapa yang tengah malam begini datang ke apartemen?’, pikirku. Dengan malas aku berjalan menuju pintu kamarku.

Kutempelkan telingaku pada daun pintu, sehingga bisa kudengar suara orang yang sedang berbicara di luar sana. Samar aku mendengar suara Yongguk yang diselingi oleh suara wanita. Jantungku tiba-tiba berdetak dengan cepat dan kubuka sedikit pintu kamarku untuk mengintip apa yang terjadi di sana.

“Apa yang eomma lakukan disini malam-malam begini?”, kudengar suara berat Yongguk bertanya pada ibunya yang tak lain adalah ibu mertuaku. Dia mempersilahkan eomma-nya duduk sebelum pergi ke dapur untuk mengambil minuman.

Dengan hati-hati kututup kembali pintu kamarku, tak ingin membuat suara. Kusandarkan tubuhku dibalik pintu, ragu apakah aku harus keluar atau tetap berada di kamar. Bagaimanapun juga setidaknya aku ingin menunjukkan rasa hormatku pada eomma-nya. Tapi saat ini aku benar-benar lelah dan ingin tidur.

‘Apa aku terlalu egois?’

Sebelum naik ke tempat tidur lagi aku baru sadar kalau ternyata aku belum mandi. Aku menghela nafas berat. Kupaksakan diri untuk mengambil handuk dan bersiap untuk mandi. Aku berjalan menuju pintu kamar karena kamar mandi berada di dekat dapur. Jadi aku harus keluar jika ingin menggunakan kamar mandi.

Saat tanganku akan meraih pegangan pintu, tiba-tiba seseorang dari luar sudah memutarnya terlebih dulu. Aku sedikit kaget saat kudongakkan kepalaku untuk melihat siapa orangnya.

“Yah.. siapa yang menyuruhmu membuka pintu kamarku tanpa seizinku?!”, nada suaraku meninggi saat tahu kalau itu Yongguk. Kupasang wajah serius sambil menatapnya tajam.

“Ssstt…”, dia meletakkan jari telunjunknya di depan bibir. Mungkin tak ingin ibunya mendengar. “Aku minta maaf, OK? Aku hanya ingin mengatakan kalau eomma-ku datang.” Dia tersenyum lebar.

Benar-benar membuatku kesal. “Aku sudah tahu”, gumamku lirih. Tapi tampaknya Yongguk tak begitu jelas mendengarnya.

“Apa yang kau katakan?”, aku menggelengkan kepalaku sambil berusaha mendorongnya keluar.

“Keluar. Keluar dari kamarku!”, paksaku. Setelah dia keluar, pintu langsung kututup dengan kasar tepat di depannya. Saat aku akan berbalik, kudengar pintu terbuka lagi.

“Oh, aku lupa mengatakan padamu. Eomma akan menginap malam ini, jadi siapkan tempat untukkuuu…”, katanya dengan nada jahil sambil mengedipkan sebelah matanya.

“Ap- Apa??”, sebelum aku sempat berkata-kata dia dengan cepat menutup pintu kembali. Aku menatap pintu dengan bingung dan mencoba mencerna kata-katanya sebelum pada akhirnya otakku kembali bekerja.

“Tunggu dulu.. Siapkan tempat?!! Itu artinya dia akan tidur denganku malam ini??” Aku membelalakkan mataku tak percaya. Aku ingin berteriak sepuasnya saat itu juga tapi aku tahu aku tak bisa karena eomma-nya disini. Jadi untuk melampiaskan amarahku, kugigit dengan kuat handuk yang kupegang. Ugh..

♣♣♣

Dengan malas aku melangkah keluar dari kamar kemudian berjalan menuju kamar mandi, tapi sebelum aku tiba di kamar mandi, aku harus melewati ruang tamu dulu saat aku melihat Yongguk dan eomma-nya duduk di sofa sedang berbicara. Keduanya dengan cepat melihat ke arahku ketika mereka mendengar langkah kakiku. Dengan canggung aku membungkukkan badanku pada eomma-nya dan memberikan sekilas tatapan tajam pada Yongguk. Aku berbalik untuk melihat eomma-nya lagi kemudian tersenyum untuk menunjukkan rasa hormatku.

Eomma-nya menjawab senyumku dengan sekali anggukan kepala padaku. Tanpa berpikir dua kali, aku cepat-cepat berjalan menuju kamar mandi. Aku menahan nafas sesaat sebelum melepasnya pelan. Aku menutup pintu kamar mandi kemudian bersiap-siap mandi. Aku tahu aku sudah bersikap tidak sopan pada eomma-nya dan seharusnya aku tidak melakukan itu di depan Yongguk.

Aku mandi lebih lama dari biasanya karena ingin sedikit menyegarkan diri. Setelah selesai, aku berjalan keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai piyama. Aku menyeka rambutku yang basah dengan handuk kemudian mulai berjalan menuju kamar tidur. Aku melihat Yongguk dan eomma-nya sudah tidak berada di ruang tamu lagi. Jadi aku yakin Yongguk mungkin telah membawa eomma-nya ke kamarnya.

Ketika sampai di depan kamarku, kuperhatikan pintu kamar tidur Yongguk tidak menutup sepenuhnya. Aku bisa melihat eomma-nya sedang duduk di tempat tidur dan Yongguk menyandarkan tubuhnya ke dinding. Tampaknya mereka berdua sedang berbicara serius.

‘Ck! dasar anak manja’

Aku berpura-pura tidak melihat mereka dan melangkah ke kamar. Aku berhenti seketika saat mendengar namaku disebut.

“Bagaimana hubunganmu dengan ‘______’?” tanya eomma-nya ingin tahu. Perlahan-lahan aku mendekati pintu kamarnya untuk mendengar percakapan mereka dengan jelas. Aku tahu, tidak baik mendengar percakapan mereka diam-diam tapi aku tidak bisa menahannya, karena aku terlalu ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan sekarang.

“B..baik…”, dia berdehem. “Ya.. Kami baik-baik saja.” Suaranya terdengar parau saat mencoba menarik bibirnya untuk tersenyum. Ini adalah pertama kalinya aku melihat senyumnya yang sedikit…berbeda. Eomma-nya menatapnya curiga, menatap lekat-lekat putranya. Yongguk dengan cepat menghindari tatapan eomma-nya dan menatap lantai.

“Jangan berbohong, Yongguk. Eomma mengenalmu lebih dari dirimu sendiri. Kau tidak baik-baik saja dengan ‘______’ kan?”. Yongguk mendongak lagi dan membuka mulutnya tapi tidak ada kata-kata yang keluar. Entah kenapa dia jadi terlihat bodoh. Tiba-tiba aku merasa bersalah padanya saat melihatnya seperti itu, berusaha untuk tidak memberitahukan perilaku burukku pada eomma-nya.

Dia menghela nafas pelan sebelum tersenyum lagi. “Eomma memang seorang eomma yang hebat, bukankah begitu?” Dia tertawa lirih dan terlihat sedikit lebih tenang.

“Aku anggap itu jawaban ‘ya’ darimu”, kata eomma-nya sambil menganggukkan kepalanya kemudian menatap putranya dengan sendu.

Aku tidak mengerti sekarang. Apa arti tatapan itu? Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui tentang mereka? Tiba-tiba aku merasa ada yang tidak beres dengan perasaanku. Perasaan yang mungkin akan kusesali cepat atau lambat.

“Aku…” aku tersadar dari pikiranku ketika suara Yongguk menggema di seluruh ruangan lagi. Aku melirik ke arahnya lagi dan melihat matanya yang sayu.

“Aku bukan suami yang baik. Itu sebabnya ‘______’ begitu membenciku. Sejak awal seharusnya aku tidak menikahinya.” Dia berbicara secara terbuka, mencurahkan apa yang ada di hatinya. Aku menggigit bibir bawahku setelah mendengar pernyataannya yang tiba-tiba itu.

“Tidak, anakku. Tolong jangan berkata seperti itu”, eomma-nya menggeleng. Matanya mulai berkaca-kaca ketika ia melihat kondisi putranya yang sedang tidak stabil sekarang.

Yongguk menatap mata eomma-nya dan sekarang dia tidak menunjukkan senyumnya lagi melainkan memasang wajah serius.

Eomma, aku bukan orang yang baik kan? Aku benar-benar bukan orang yang baik. Itu sebabnya dia meninggalkanku, dia sudah tahu kalau aku tidak bisa memberikannya kebahagiaan. Hari itu… hari itu seharusnya menjadi hari pernikahan kami, akan tetapi semuanya berubah. Dia tidak datang. Dia tidak muncul seperti apa yang telah direncanakan. Aku terus menunggunya tapi dia tetap tidak datang”, katanya lagi. Aku bisa merasakan kesedihan dan kesengsaraan dari matanya yang gelap. Eomma-nya hanya terdiam dan membiarkan putranya mencurahkan perasaannya.

Siapakah dia? Mengapa aku tidak tahu apa-apa? Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak tahu kalau Yongguk memiliki masa lalu yang kelam.

Kututup mulutku dengan telapak tangan, mencegahku mengeluarkan suara isak tangis. Tanpa sadar, air mata menetes di pipiku. Aku tidak tahu, di belakang senyumnya itu ia menyembunyikan rasa sakit.

Apa yang telah kulakukan padanya? Dia terluka, luka yang teramat dalam di hatinya dan seharusnya aku menyembuhkan luka itu tapi apa yang telah kulakukan? Aku malah semakin melukainya lagi, menyakiti hatinya lagi dan lagi.

“…Kemudian, dia meninggalkan sebuah catatan, mengatakan bahwa dia tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Hatiku hancur saat membaca setiap kata yang ditulisnya. Eomma tidak tahu betapa aku ingin sekali menangis, aku ingin sekali berteriak, memberitahukan pada dunia bahwa ini semua tidak adil untukku, tapi aku tidak bisa eomma. Aku benar-benar tidak bisa. Yang hanya bisa kulakukan adalah duduk di sana sambil menatap secarik kertas dengan tatapan kosong”, tambahnya lagi sambil memejamkan matanya sejenak. Dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya untuk sedikit menenangkan diri.

Kuperhatikan wajah sedihnya. Selama aku menjadi istrinya, dia selalu menunjukkan padaku senyum hangatnya, bahkan tidak pernah peduli pada ucapanku yang selalu kasar padanya. Kau hebat, Yongguk. Bagaimana kau bisa melakukan itu? Berpura-pura kalau kau baik-baik saja tapi sebenarnya tidak. Kau berbohong dengan sangat baik, Yongguk. Kau mengelabui orang di sekitarmu dengan selalu menunjukkan gummy smile-mu, dan orang itu adalah aku.

Aku menyandarkan tubuhku ke dinding di samping pintu, masih menunggu untuk mendengar pernyataan yang sebenarnya dari Yongguk. Aku menyesal karena membuatnya terluka dengan sikapku yang dingin. Bagaimana dia bisa bertahan menjadi suamiku?

“Aku mengerti itu Yongguk, aku selalu mengerti”. Eomma-nya mencoba untuk menghiburnya. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat sebelum eomma-nya berbicara lagi.

“Lalu, bagaimana dengan ‘______’? Apakah kau mencintainya?” Eomma-nya tiba-tiba mengubah topik pembicaraan, aku terkejut dengan pertanyaannya. Jantungku mulai berdebar tak karuan, tapi di dalam hatiku aku benar-benar ingin tahu bagaimana perasaan Yongguk yang sebenarnya terhadapku.

“Bohong kalau kukatakan aku tidak pernah punya perasaan padanya, eomma. Kami hidup di bawah atap yang sama hampir 1 tahun dan hampir setiap hari aku melihatnya”. Aku tidak bisa menahan senyumanku.

“…Tapi aku akan membiarkannya pergi suatu hari nanti”, tambahnya lagi. Aku terkejut mendengar kalimat terakhirnya. Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba aku merasa sedih saat dia mengatakan dia akan membiarkanku pergi.

Bukankah itu yang kuinginkan sejak awal?’ Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, bingung dengan perasaan asing yang sedang kurasakan sekarang. Untuk suatu alasan aku tidak ingin dia membiarkanku pergi. Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya. Dia orang yang unik bagiku.

“Tetapi kau tidak bisa melakukan itu, Yongguk!” Protes eomma-nya yang hampir saja berteriak memarahi putranya. Yongguk menghela nafas pelan.

“‘______’ tidak mencintaiku, eomma. Aku tidak bisa memaksanya untuk menjadi istriku selamanya. Aku tidak cukup baik untuknya. Dia layak bersama orang lain yang bisa menjaganya. Aku sudah menghancurkan hidupnya dengan pernikahan ini. Seharusnya sejak awal aku menolak permintaanmu untuk menikahinya”. Yongguk berterus terang mengatakan semuanya, dan tampak adanya rasa penyesalan di matanya.

“Kami semua melakukan ini karena kami semua percaya bahwa dia bisa menjadi istri yang baik untukmu. Ayahnya bersedia memberikan putrinya kepadamu karena ia percaya bahwa putrinya bisa membuatmu bahagia.” Kata-kata eomma-nya membuatku terkejut.

‘Apa? Ayahku…’ Aku menggigit bibir bawahku setelah mendengarnya. ‘Kenapa aku tidak tahu apa-apa tentang ini?’

“Bagaimana bisa kau melakukan itu padanya, eomma. Itulah alasan mengapa dia begitu membenciku. Kita telah mengambil hidupnya. Kita harus memahaminya dulu dan menghormati perasaannya. Seharusnya ayahnya tidak memaksanya untuk menikah. Itu tidak benar. Itu semua salahku.”

Perlahan-lahan aku luluh oleh kebaikannya. Kata-katanya menyentuh hatiku. Aku bisa merasakan kalau dia begitu peduli padaku. Bagaimana bisa aku tidak menyadari itu sebelumnya?

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Yongguk.”

Yongguk mengabaikan kata-kata eomma-nya, berjalan ke arah tempat tidur dan perlahan menuntun tubuh eomma-nya untuk berbaring.

Eomma harus tidur sekarang. Aku ingin keluar mencari udara segar sebentar. Jangan menungguku”, katanya sambil mencium dahi eomma-nya. Eomma-nya hanya mengangguk lemah. Bibirnya langsung membentuk senyuman dan berjalan ke lemari untuk mengambil sweater-nya.

♣♣♣

Sementara itu, aku cepat-cepat berjalan ke kamar tidurku ketika menyadari bahwa Yongguk mulai berjalan keluar dari kamarnya. Aku mengintip melalui pintu kamarku dan melihat Yongguk yang sudah berjalan ke pintu depan kemudian menghilang pergi dari balik pintu. Sebuah nafas berat terlepas dari bibirku saat aku berjalan ke tempat tidurku.

Aku duduk di sudut tempat tidur, menatap kakiku. Pikiranku mulai mengingat kembali percakapan antara Yongguk dan eomma-nya. Aku telah melihat orang seperti apa Yongguk sebenarnya beberapa menit yang lalu dan membuatku berpikir kalau aku harus membuka hatiku untuknya dan menerimanya sebagai suamiku.

Suara dering ponselku membuatku tersadar dari pikiranku. Aku segera mengambil ponselku yang ada di atas meja dekat tempat tidur. Aku langsung menghela nafas berat saat melihat nama pemanggil di layar ponsel. Ini adalah pertama kalinya aku merasa tidak senang ketika aku menerima panggilan dari kekasihku. Aku meletakkan ponselku di tempat tidur dan hanya membiarkannya berdering di sana, bahkan aku tidak ada keinginan untuk menjawabnya sama sekali. Aku sedang tidak mood dan pikiranku sekarang hanya tertuju pada satu orang dan orang itu adalah Bang Yongguk, suamiku.

Akhirnya, dering ponselku berhenti sesuai keinginanku. Aku mengambil ponselku lagi dan mengetik sesuatu. Aku telah memutuskan kalau aku akan mencoba untuk menerima Yongguk dan memberinya kesempatan. Aku berjanji akan menjadi istri yang baik untuknya. Aku akan membuatnya tidak menyesal mempunyai istri sepertiku. Aku akan mencoba untuk mencintainya.

Setelah selesai mengetik, dengan cepat kutekan tombol ‘kirim’ ke nomor kekasihku. Aku berharap dia memahami dan menerima kenyataan kalau dia tidak dapat memilikiku selamanya.

"Maafkan aku, mari kita berpisah."

Aku segera mematikan ponselku kemudian meletakkannya jauh dariku, tak peduli bagaimana tanggapannya. Aku meraih remot dengan kasar lalu menyalakan pendingin ruangan sebelum membaringkan tubuhku di tempat tidur. Aku menarik selimut ke atas tubuhku kemudian bersiap-siap tidur.

Sayangnya, aku hanya berguling ke kiri dan kanan dengan gelisah. Mataku bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda kalau aku ingin tidur. Tiba-tiba aku mendengar suara ‘klik’, menunjukkan bahwa seseorang telah membuka pintu. Aku segera berbaring miring, mengetahui kalau Yongguk sudah kembali.

Beberapa menit kemudian, aku bisa merasakan sesuatu yang berat di sisi tempat tidur yang aku belakangi. Punggungku menghadap ke arahnya dan aku menahan nafasku karena gugup. Jantungku mulai berdetak lebih cepat untuk pertama kalinya. Diam-diam kutekan kedua telapak tanganku di depan dadaku, mencegah agar dia tak mendengar detakan jantungku yang keras. Aku bisa merasakan kalau dia sudah berbaring di sampingku dan aku sangat takut untuk berbalik menghadapnya.

Aku memutuskan untuk menunggunya tertidur lebih dulu, sehingga aku bisa berbalik nanti. Aku terus mengedipkan mataku dalam kegelapan kamarku, merasa belum ingin menutup mataku. Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk tetap berada dalam posisiku dan akhirnya aku punya keberanian untuk berbalik.

Aku menatapnya yang juga berbaring miring menghadapku. Aku melihat ekspresi tidurnya yang begitu damai, menyilangkan kedua tangannya di depan tubuhnya, memeluk dirinya untuk membuat tubuhnya tetap hangat. Bibirku langsung membentuk senyuman kecil sebelum aku bangun dengan posisi duduk. Aku melihat ke arahnya sambil membuka selimutku lebar-lebar, cukup bagiku dan dia untuk berbagi. Aku menarik selimut hingga mencapai pinggangnya kemudian berbaring kembali.

Aku menatap wajahnya, mengamatinya dalam diam. Aku mengamati setiap inci wajahnya, dari matanya kemudian turun ke bibirnya. Tanpa sadar apa yang kulakukan itu membuatku malu sendiri di depannya walaupun dia sedang tidur sekarang.

“Maafkan aku, Yongguk. Kau sudah menjadi suami yang baik untukku.” Aku menggeser tubuhku mendekat ke tubuhnya dan dengan berani tanganku bergerak mengusap rambut hitamnya.

“…dan aku begitu bodoh tidak menghargaimu sebagai suamiku.”, bisikku lagi. Suaraku semakin lirih karena aku mulai merasa kelopak mataku berat.

“Selamat malam, Yongguk…” Akhirnya aku menutup rapat mataku.

“Jangan tidur…” Yongguk tiba-tiba berbicara dengan suara beratnya. Aku sedikit terkejut dan kupaksakan untuk membuka mataku lagi dan melihat Yongguk yang sedang menatapku.

“Kupikir kau sudah tidur”, dengan lembut kukatakan padanya kemudian menutup mataku lagi. Aku bisa merasakan sentuhan dan belaian lembut tangannya di pipiku.

“Kumohon, jangan tidur”, sekali lagi ia mengatakan padaku. Aku mengerutkan dahiku atas pernyataannya. Kenapa dia terus melarangku tidur. Tangannya masih membelai pipiku. Aku menurutinya dan membuka mataku kemudian membuat kontak mata dengannya.

“Kenapa?”, tanyaku penasaran. Dia tidak mengatakan apa-apa, malah memindahkan tangannya ke bahuku sementara matanya tidak pernah lepas dari mataku, seolah-olah memberiku petunjuk dan butuh beberapa menit untukku memahaminya.

“Jangan tidur, OK?”, katanya lagi sambil tersenyum.

Aku tetap terdiam saat mengerti apa yang dia maksud. Hal selanjutnya yang dia lakukan, biarlah menjadi rahasia kami~~ 😛

FIN

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s